Lembaga Penjaminan Mutu dan Audit Internal (LPMAI) Universitas Sanata Dharma pada tanggal 7 Desember 2025 bertempat di Kho Kopitiam Malang melaksanakan Refleksi Karya untuk semua staff, bersamaan dengan agenda Benchmark ke Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya pada tanggal 8 Desember 2025. Kegiatan yang dilaksanakan secara berkala ini bertujuan untuk merefleksikan tugas dan peran unit maupun masing-masing pribadi yang diberikan tugas di LPMAI, serta mendukung pembinaan yang berkelanjutan dan peningkatan mutu yang selaras dengan visi dan misi USD sebagai perguruan tinggi humanis.


Refleksi Karya difasilitasi oleh Bapak Y. Agus Sugiatno, S.Si., M.M. selaku Kepala Satuan Penjaminan Mutu dan Audit Internal Pendukung, dan mengusung tema utama Sanyata Ing Dharma dalam rangka memperingati 70 tahun karya USD lewat Memuji, Menghormati, dan Mengabdi.
Lewat Memuji, seluruh staff LPMAI diajak fasilitator untuk melihat dan merefleksikan rasa syukur terhadap capaian karya kami, baik di lingkup LPMAI maupun Universitas, sehingga kami dapat mengalami perluasan afeksi. Sanyata ing Dharma lewat menghormati mengajak kami untuk merefleksikan kembali perjumpaan yang saling menghargai, mempercayai, mengakui, menerima, dan memahami, sehingga perjumpaan dapat menjadi perjumpaan yang memberdayakan. Sanyata Ing Dharma lewat mengabdi mengajak kami untuk semakin kuat dalam pelayanan dan pengabdian di unit dan universitas, sehingga perjalanan pelayanan dapat menjadi perjalanan harapan.


Lewat metode tiga putaran, refleksi karya LPMAI 2025 menegaskan bahwa Sanyata ing Dharma dihidupi sebagai proses yang utuh antara memuji, menghormati, dan mengabdi, yang terwujud melalui perluasan diri, perjumpaan yang memberdayakan, serta kesediaan untuk bergerak secara kreatif dalam kesadaran akan keterbatasan ruang, waktu, dan kecepatan. LPMAI dimaknai sebagai “rumah bersama” yang menumbuhkan rasa aman, saling percaya, dan keberanian untuk berbuat baik, membuka diri, serta melayani dengan sikap positif dan penuh syukur. Melalui pengalaman konkret tersebut, spiritualitas mata terbuka dilatih: kepekaan diasah untuk melihat sesama sebagai keluarga, menghargai peran masing-masing, dan menghadirkan terang bagi yang membutuhkan, sekaligus menutup mata secara reflektif agar setiap tindakan tetap berakar pada nilai dan makna. Dalam perjalanan harapan yang tidak selalu lurus dan pasti, kesadaran untuk “membuka mata selebar-lebarnya dan menutup mata sedalam-dalamnya” menjadi prinsip bersama agar seluruh staf LPMAI terus melangkah berani dalam terang dengan komitmen pengabdian yang berkelanjutan bagi Sanata Dharma.